Senin, 23 Desember 2013

ILUSI



ILUSI

Selembar kertas melayang terbang terbawa angin buritan
Bersama camar yang hendak pulang dengan kelepak sayap pastnya
Menyapa sang senja yang mulai menjemput
Hendak mengganti siang jadi malam terang jadi gulita

Biarlah semua berubah
Asal jangan suka jadi duka
Bahagia jadi lara



Tapi ubahlah malam jadi senja
Atau rembulan jadi mentari
Walau desir ombak di laut pun tahu
Itu hanya ilusi
(Rita Lestari-Depok)

PERGI



PERGI

Di sudut tenang dan sunyi
Aku terduduk lesu seorang diri
Sebatang pena bergelayut di sela jari
Mengukir kata lukiskan hati
Dengan hati resah tak menentu
Kurangkai kata satu demi satu
Hingga menjadi sebuah syair sendu
Sebagai ungkapan hati yang tergores rindu
Maafkan aku, Sayang...

Dengan tiba-tiba aku menghilang
Putuskan tali cinta dan kebersamaan
Tanpa sepatah kata atau sebuah pesan
Juga tanpa senyum atau lambaian tangan
Mafkan aku, Sayang ...
Kutahu hatimu kecewa
Kutahu jiwamu merana
Kutahu batinmu bertanya

Mengapa ... kemana ...
Jawabannya tak pernah ada
Semenjak perpisahan itu
Aku terdampar di lembah sunyi dan pilu
Tak tahu lagi ke arah mana ku harus berlalu
Seakan pikiranku mati bagai kerbau dungu
Karena hati melanda resah dan rindu
(Yayat Ruhiyat – Sulteng)

MAAF UNTUK SAHABAT



MAAF UNTUK SAHABAT

Dia...
Tempatku berbagi cerita
Perlahan menjauhi dariku

Maaf...
Aku tak bisa menjadi sahabat yang baik
Diriku trlalu naif
Tak berhak aku menahanmu
‘tuk selalu menemaniku

Maaf...
Ketulusanmu kubalas emunafikan
Kunodai persahabat ini dengan kebohongan
Kukhianati kepercayaanmu

Maaf...
Ku tak dapat menjadi sahabat yang sejati
Tak apa kau tak pantas menerima jawabanku

Maaf...
Kutinggalkan luka dihatimu
Sekali lagi, maaf ...
(Wenny K. Tendean-Jaksel)

AKU PECUNDANG



AKU PECUNDANG

Aku muak!
Dengan semua sikap manismu dengan kebohongan yang kau tebarkan
Aku bodoh telah berikan semua
Aku salah telah menjadikanmu harapan
Harapan yang kunantikan sejak lama
Kau bungkus dengan khianat yang teramat pedih
Hingga aku tak mampu menerima cinta yang lain
Dalam diamku...
Kusimpan rasa yang menusuk
Mencabik-cabik tubuhku
Hingga aku tak mampu menerima
Cinta yang lain
Akulah pecundang
Yang hidup dalam kebodohan dan pengkhianatan
Para kaum bermulut manis
Hingga aku tersadar
Aku tak mampu lagi bercinta.
(Hanna Kristyaji-Indramayu)